Musik

Soul of Slamming – Agresi Prematur

Track-list:

  1. Intro
  2. Agresi Eksekusi Tirani
  3. BOB
  4. Industri Pembodohan
  5. Misi Penuh Dendam
  6. Dunia Neraka
  7. Sakit Otak
  8. Prematur
  9. Membusuk

Members: Deni Gore – Vocal | Ricko – Guitar | Denci Suprobo – Bass | Vivi – Drum

Bandar Lampung. Tak banyak yang saya tahu dengan kota ini. Selain wilayahnya yang masih didominasi hutan belantara dengan pohon sawit/karet sebagai tulang punggung warganya, dan untuk kali ini Soul of Slamming menjadi fragmen selanjutnya yang akan selalu saya ingat. Terhitung sejak bulan puasa kemarin menemukan mereka di salah satu webzine ibukota dengan slogan “Preserving Underground Music To Get It Sold Out”. Memutarnya melalui akun bandcamp Soul of Slamming (untuk selanjutnya hanya akan ditulis SoS), kemudian memutuskan membeli kopian fisiknya di salah satu distributor The Evil Production yang tersebar cukup banyak di record label-record label pulau Jawa.

Untuk ukuran anak SMA, Vivi cukup membuat saya yakin bila harus mengeluarkan ongkos kirim agar cd ini nangkring bersama beberapa koleksi di kamar buntut saya. Dan kelihaian Sidjimbe Art merefleksikan materi lagu SoS sangat menarik perhatian, terlebih akan mengingatkan goresan artistik Daniel Seagrave ketika dirinya mengerjakan sampul album debut Monstrosity 24 tahun lalu. Namun bukan itu poin pentingnya (paling tidak untuk saya secara personal), melainkan tentang kota yang sebelumnya saya anggap sangat purba terhadap genre ini (katakanlah metal). Karena minimnya publikasi maupun informasi yang kemudian hari (seperti saat ini) membuat saya yakin bahwa bukan hanya kota-kota besar saja yang memiliki potensi untuk bergerak di jalur ini.

20160830_150632[2]

Agak terkecoh ketika trek berjuluk Intro tersebut menelusup di kontur gendang telinga yang pada waktu itu saya bekap dengan headphone, sempat under-estimated dengan model-model aransemen seperti ini yang kebanyakan dipakai band-band modern post-hardcore or deathcore dalam menggapai estetika ruang dengar para fansnya. Yang kemudian hari membuat saya begitu muak (bosan lebih tepatnya) dengan model yang nyaris seragam ketika mengkonsumsi beatdown tempo.

SoS menampar saya sekenanya, memukul dengan trek Agresi Eksekusi Tirani. Seperti nama bandnya (slamming), SoS tidak terlalu jauh mengambil ataupun meracik potion para pendahulunya yang kadangkala membuat slamming begitu jenuh. Sama jenuhnya ketika kalian mendengarkan debut album Abominable Putridity, yang stuck gak bisa kemana-mana (atau alibi paling menjemukannya ialah, karena bosan dengan kecepatan). Dan untungnya (lagi-lagi bagi saya) kuartet Lampung ini tidak terlalu menuhankan instrumentasi super lambat yang membosankan tersebut (dan mungkin sebentar lagi saya akan diludahi oleh kawan-kawan yang menuhankan slamming sebagai sebuah pedoman). Part awal menempatkan aransemen deathmetalic meski tak sampai dihujani blasting, kemudian mengaduknya dengan beberapa tetes riffing yang tebal dan sangat kasar (sekasar pendahulunya, sebut saja riffing Ferli Suferli). Ditutup dengan malasnya (sorry, mungkin lebih tepatnya disebut down tempo) ribuan band slamming menginstruksikan massanya untuk ber-headbang ria.

Trek ke-3, BOB. Entah apa abreviasinya, yang jelas di trek ini Deni sangat muak dengan aurat para kaum hawa yang tak terbungkus rapi pakaiannya dan kemudian hari dikooptasi agenda-agenda prostitusi. Dipajang para germo dan dikonsumsi mirip filter (habis, buang). Untuk perihal aransemen SoS mengambil beberapa part Kaluman yang begitu groovy untuk dijadikan pola referensi, bahkan sampai Jasad sekalipun. Industri Pembodohan, sangat jelas Vivi begitu mengidolakan Asep Rosidin a.k.a Abas, bukan blasting super cepat yang dia tiru melainkan blast patah-patah (entah apa nama spesifiknya) seperti halnya ketika Abas masih menjadi kerangka penopang di album Rebirth of Jatisunda. Dan untuk kalian diehard-fans slamming, pasti tak akan ragu untuk berjingkrak-jingkrak di depan panggung mereka ketika trek ini dimainkan. Saya jamin badan & otak kalian tak’kan mampu untuk berkata tidak mau.

Misi Penuh Dendam, masih tetap konsisten mencampurkan formula-formula groovy-nya Kaluman dengan sedikit saja beat Rebirth of Jatisunda. Dalam Dunia Neraka, sepertinya SoS mulai kehabisan amunisi lirik. Terbukti begitu banyak pengulangan verse-nya. Dan di trek ini akan terasa begitu cepat terlewat, mengingat banyaknya part yang dibiarkan melompong begitu saja alias kekosongan dalam segmentasi vokal. Meski durasinya masih sama seperti trek-trek sebelumnya, dihajar selama 3 menitan. Lanjut trek ke-7, Sakit Otak. Vivi lebih bereksplorasi dalam lagu ini, memamerkan beberapa slide technique yang membuat kontur lagu semakin unique. Bandingkan dengan beberapa debut album band-band slamming yang tak dihuni personil-personil terkenal, pasti akan jelas terasa perbedaannya. Bila kalian merasa review ini terlalu hiperbola.

Prematur, sebuah trek instrumental berdurasi 1 setengah menit untuk membawa kita menuju putaran cakram padat ini mencapai ujung, Membusuk. SoS berusaha setengah mati mendekati Jasad, tentang tenggorokan Deni yang sengaja ditekan pada pangkal tengkak, yang lebih simple disebut dengan teknik guttural. Sulit untuk tidak menyebutkan nama Jasad sebagai kerangka imajiner aransemen mereka. Meski agak terasa konyol bila membaca liriknya, menasehati kita agar tidak terbius dengan nafsu duniawi. Karena pada akhirnya (menurut mereka) kita akan pulang ke nirwana untuk mempertanggungjawabkan semua. Dan lagu berhenti tepat di menit 02:54, sebelum sepersekian detik kemudian bertuliskan Stop. Menandai selama kurang dari 27 menit kepingan cd ini berputar-putar di lintasannya.

Dan kalimat penutup akan saya sisakan untuk seobyektif mungkin setelah mendengarkan debut mereka. Kita akan sedikit terkecoh dengan sampul depannya, manusia hibrida yang dimangsa para monster. Kita juga akan sedikit terkecoh bila melihat moniker vokalisnya, Gore, karena mayoritas lirik Soul of Slamming sangat jauh dari kesan gory. Mengingat memang sangat sulit untuk menulis verse berdarah-darah agar siapa saja yang membuka bukletnya ingin muntah-muntah. Tema lirikal Soul of Slamming memang standar (ingat kaluman?). Namun untuk ukuran aransemen, SoS tak boleh dianggap remeh dalam meracik formula-formula musikalismenya dalam keseharian mengkonsumsi referensi maupun influensi.

*Untuk melihat liriknya, silahkan lompat ke sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s