Celotehan

Hernan “eddie” Hermida

Entah kenapa nama orang ini melintas begitu saja dalam pikiran di beberapa pekan ini, kemudian dengan bangsatnya saya sadari berkat perannya bersama All Shall Perish 10 tahun lalu yang kemudian hari membuat saya pernah mengidolakan dia.

Saya masih ingat betul ketika era ipod sedang menjadi buah bibir 9 tahun lalu. Media tv sering memberitakannya, sedangkan informasi internet belum seramah sekarang. Juga menjadi pertanda sekaligus saksi ketika celana pendek-ketat warna biru tua masih menempel di paha, SMP kelas 3. Beberapa bulan kemudian setelah lulus SMP mendengarkan 2 album berturut-turut milik ASP —Hate, Malice, and Revenge dan The Price of Existence. Melalui medium mp4 portable milik kakak saya, di era ipod masih belum begitu bersahabat dengan kantong-kantong orang pedesaan.

Tanpa mempedulikan genre apa yang mereka mainkan, tanpa mempedulikan tema sentral apa yang sedang mereka kembangkan. Yang jelas per minggunya telinga saya benar-benar sangat nyaman dibuatnya. Oh ia, 2 album itu saya dapatkan dari stasiun radio lokal beberapa puluh kilometer dekat tempat saya menghabisi masa-masa SMP. Hampir mirip tempat tongkrongan bila harus membandingkannya dengan stasiun radio ibukota, peran radio tersebut sangat mencerahkan bagi kami yang saat itu sangat gagap teknologi. Dimana bilik-bilik warnet belum menjadi tongkrongan wajib bagi para gamer online —di tempat saya setidaknya.

Sialan, akhirnya nama Hermida-lah yang membuat beberapa fragmen ini mengajak kembali untuk dipungut satu-persatu dan disatukan menjadi satuan frame yang utuh.

Stasiun radio itu memutar hampir 2 jam trek-trek Metal berikut sub-genrenya, di malam Jumat. Dan apabila harus mengenang tahun itu, saya pasti akan teringat bagaimana cerewetnya almarhum nenek yang sering marah-marah karena radio kesayangannya saya ambil alih. Karena berbenturan dengan jadwal siaran wayang kulit kesukaannya, juga karena dengan rasa tak berdosa saya hampir selalu memaksimalkan volume suaranya, diantara jam 22 sampai pukul 24. Sampai satu ketika saya harus mengeluarkan Rp5.000,00 untuk satu keping CD yang diisi ratusan mp3, oleh stasiun radio tersebut. Dan beruntunglah, sang operator memasukkan diantaranya 2 album milik All Shall Perish, yang kemudian menjadi awal pertemuan saya dengan band asal Northern California tersebut.

Beberapa tahun setelahnya saya baru menyadari satu hal, bahwa vokalisnya berbeda. Dan sialnya suara Hermida nyaris mirip dengan pendahulunya, Craig Betit. Namun karena Betit seperti terhempas angin perihal kabarnya setelah hengkang dari ASP, akhirnya saya memposisikan Hermida mirip seperti virus yang hampir setiap hari saya konsumsi tanpa henti —konotasi sederhananya, menjadi sebuah influensi maupun referensi. Hampir setiap hari berusaha setengah mampus agar bisa mendekati beberapa tipikal teknik suaranya, dari mulai growl, scream, throat sampai teknik guttural Betit dan sialnya lagi tanpa ada pendamping guru vokal. Melalui 2 album awal ASP kala itu saya selalu berpikir, Deathcore memang seharusnya dikonstruksi sedemikian rupa sampai kapanpun. Namun ekspektasi saya buyar ketika Awaken the Dreamers dirilis pada 2008, yang baru saya ketahui sekitar 1 tahun lebih kemudian. Karena itu tadi, media internet belum seramah sekarang.

e6054f8d30374dc9b824373f081b24b8

www.last.fm

Di album ke 3-nya, ASP terlalu menye-menye dalam perihal aransemen. Bagi setiap fans yang terlanjur tenggelam dengan materi-materi awal ASP, tentu dirinya tidak akan pernah mau walau sekedar mengapung untuk menghirup udara bebas. Dia akan selalu memilih tenggelam.

Entah apa yang dipikirkan ASP kala merilis album ini, mengingat formasinya masih terbilang sama seperti di album sebelumnya. Pasca mengetahui ASP mengeluarkan album yang super buruk ini, saya selalu men-skip Awaken the Dreamers dari diskografi mereka —menganggap tak pernah merilis album ini. Kemudian, Hell Chose Me milik Carnifex secara perlahan mengobati kekesalan saya tentang album buruk milik ASP. Dan sangat sulit untuk tidak menyukai materi Brutal Deathcore yang disuguhkan Scott Lewis dan kawan-kawannya di album yang rilis 2010, sekaligus menjadi album ke-3 band asal San Diego tersebut.

1 tahun kemudian, This is Where it Ends dirilis. Masuknya 2 nafas baru —Adam Pierce & Francesco Artusato— yang menggantikan posisi Matt Kuykendall & Chris Storey, membuat materi lagu ASP sedikit lebih menjanjikan dibanding album sebelumnya. Meski tak “segila” 2 album awalnya, This is Where it Ends cukup bisa menambal beberapa lubang yang pernah mereka buat sebelumnya —untuk saya. Setidaknya album ini berhasil menciptakan nuansa-nuansa (baca: feel) yang sebelumnya tak ada di album buruk tadi, melalui lead gitar Artusato. Hampir sekitar 2 tahun pasca rilisan terakhir ini muncul, ASP seperti hilang dimakan badai. Dan Hermida —plot dalam narasi ini— akhirnya muncul di tahun 2014 membidani band Deathcore yang sejujurnya sangat tidak saya sukai, Suicide Silence. Dunia seperti runtuh sebagian dan menimpa punggung saya —dan saya sepenuhnya sadar, metafora ini terlalu hiperbola. Ehm, baiklah akan saya sederhanakan. Seperti halnya ayah kalian yang merebut gebetan loe —simple kan?.

Agustus lalu melalui laman facebooknya, ASP mengumumkan akan reuni dalam formasi awal & akan mulai masuk studio rekaman. Meski sempat ricuh dengan Mike Tiner perihal royalti untuk menggunakan kembali moniker All Shall Perish, namun Kuykendall berhasil memenangkan kasus yang menurut saya tidak terlalu penting itu. All Shall Perish masih akan berjuluk ASP, sembari menunggu album terbarunya keluar, saya enggan untuk berekspektasi berlebih.

Dan mungkin memang benar, saya gagal move on.

*Source cover photo: Anthony Diaz.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s