Celotehan

Dilema Delima

Entah sudah berapa lama dia tertekan, liat kenangan yang mengeras. Ditumbuhi gemericik belukar yang samar tertanam, dalam-dalam.

Pandora Emilia Delima yang beraroma fantasia samsara, berarak bagai segelas arak yang asyik bercengkerama dengan layang angan. Terpagut ragu dengan tangguh yang memalsu, mematai rencana yang agak kabur menyubur. Lerai cerita dengan kasat telinga, tempias bisu kemudian mencoba mencumbu.

Kulai lemas kamuflase rias canda bertajuk tanya, kala mata sang pemberi nyawa mulai menyapa.

Sekilas paragraf tentang cerita, setangkai bunga.

Emilia …

Yang kuberi nama

Delima.

image

Celotehan

Ketika Si Putih, Berlumuran Darah

Entah darimana semua berawal, yang jelas darah sudah dimana-mana. Penggalan mayat berserakan, disetubuhi, digores kulitnya, dan yang paling mengerikan mereka ditumpuk dibalik tembok rumahnya sendiri sambil menunggu lalap api. Ironi atau elegi ? Tak ada yang pasti, mungkin ini katarsis dari orang pribumi? Lahir dari enzim reformasi, yang katanya awal dari demokrasi. Namun harus tercecer diskriminasi tentang ras yang katanya lebih kotor dari pribumi. Inilah potret kelam sejarah muka kami, Indonesia. Mungkin ini konflik agama? Karena sebelum mereka dihanguskan mereka sempat diberi tujuh kalimat “Kau bukan Islam, dan kau seorang Cina”. Entahlah, aku tak pernah mengerti siapa yang harus memikul jawab ini? Aku hanyalah partikel berangka delapan waktu sejarah itu mengubah langit biru menjadi samar kehitaman. Banyak dari mereka yang lari tunggang-langgang ke negeri seberang, tak sedikit pula yang merangsek ke pedesaan. Merasa dikhianati negeri sendiri, karena mata mereka sipit lengkap dengan lesung pipit. Kisah usang ini, mungkin akan selalu terkubur dalam peti emas catatan pemimpin Orde Baru. Mei, sembilan puluh delapan.